fanfiction · Romance

Love Mission – Chapter 1

love mission cover copy

 

“Love Mission part 1”

Title : Love Mission

Author : Shafira Surya

Poster : ShafirArt

Rating : 15+

Length : Chapter

Genre : Romance, Fantasy

Cast : Park Jiyeon

Kim Myungsoo

Bae Suzy

Yoo Seung Ho

~DON’T BE A SILENT READERS & PLAGIATOR~

–      Jiyeon POV

Uri ga.. Keuman hajja.” aku menatap kaget kearah namja yang kini duduk didepanku. Tanganku gemetar mendengarnya. Dengan cepat aku meraih gelas yang berisikan moccachino yang aku pesan tadi. Menggenggam kuat-kuat pegangan cangkir itu dan tetap berusaha bersikap tenang.

­“ Apa maksudmu ?”ujarku yang pura-pura tidak mengerti.

“ Jangan berpura-pura bodoh, Jiyeon-ah.” Namja itu tertawa sinis, “ Bukankah sangat jelas, kalau aku ingin kita untuk pu-tus.” lanjutnya lagi dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“ Yah~ Yoo Seung ho! hentikan lelucon konyol mu ini ! Aku benar-benar tidak ingin bercanda sekarang.” Tanganku semakin gemetar dan keringat disekujur tubuhku semakin deras mengalir. Aku tidak bisa mendengarnya lebih lama lagi. Aku tidak sanggup.

“ Terserah kau saja, tapi yang jelas aku tidak bisa lagi bersamamu.” ujarnya. “ Kau itu terlalu kekanakan, kau egois, dan aku lelah sekali selama 2,5 tahun ini.” Lanjutnya lagi.

“Jadi, selamat tinggal.” Ia beranjak dari kursinya dan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari Cafe ini.

Aku terdiam selama beberapa menit, berusaha mencerna kata-kata yang barusan Seung Ho ucapkan. Tidak terasa cairan bening akhirnya menetes juga dari pelupuk mataku. Wajar saja jika sekarang aku menangis. Aku begitu mencintainya dan kami telah berpacaran selama 2,5 tahun. Terlalu banyak kenangan manis yang sulit untuk dilupakan.

Aku menatap ke seorang yeoja yang duduk diseberang meja yang sedang aku tempati ini. Mata kami bertatapan dan dia terlihat begitu kaget sekali ketika aku melihat ke arahnya. Aku merasa aneh dengan tatapannya itu, dengan cepat aku segera mengalihkan pandanganku. Sesekali mencuri pandang dan yeoja itu masih memandang kearahku.

” Jangan-jangan dia stalker!” batinku, yang akhirnya mulai merasa risih. Aku segera meraih hp ku yang berada diatas meja, memasukannya kedalam tas dan kemudian bergegas pergi dari Café ini. Memang seharusnya ketika Seung Ho pergi, aku pun juga harus pergi. Café itu benar-benar menjadi tempat sialku hari ini !

Aku menulusuri jalan setapak didaerah yeuido dengan langkah yang begitu gontai menuju rumah. Bayang-bayang namja itu masih terus muncul dibenakku. Yoo Seung Ho itu namja yang paling baik dan yang paling bertanggung jawab diantara namja-namja yang pernah aku kenal. Tapi, diantara semua kelebihan yang dimiliki, pasti ada kekurangan yang ia miliki juga. Dia itu bukan namja yang romantis. Tipe orang yang suka berkata apa adanya, tidak bisa dilebih-lebihkan maupun dibuat-buat. Terkadang, ucapannya pun sedikit ‘menusuk’ . Tapi itulah yang kusuka darinya, berbeda dari yang lain…

 

-Jiyeon POV end

-Author POV

Sekitar pukul setengah 8 malam Jiyeon telah sampai didepan rumahnya. Ketika ia memasuki ruang keluarga, ia melihat ibu dan kakak laki-lakinya, Park chanyeol, yang sedang asyik menonton tv bersama. Tanpa menghiraukan mereka, Jiyeon segera naik keatas menuju kamarnya. “ Kau sudah pulang ?”Tanya nyonya Park yang baru saja menyadari kedatangan Jiyeon. “ Neh.” jawab Jiyeon lesu dan kemudian masuk kedalam kamarnya.

“ Kau kenapa ?”Tanya nyonya Park lagi. “ Aku tidak apa-apa “teriak Jiyeon dari dalam kamarnya.

Setelah mengganti pakaiannya, Jiyeon segera membaringkan tubuhnya keatas kasur. Badannya begitu lelah, begitu juga dengan pikirannya. Ia menutup matanya sejenak untuk beristirahat, tapi kemudian ia mendengar sebuah suara langkah sepatu didalam kamarnya. Terasa hembusan angin yang begitu dingin dipermukaan kulitnya. Ia membuka matanya dan tiba-tiba persis disampingnya berdiri seorang yeoja yang tengah menatapnya.

“K..Kau !” Jiyeon segera bangun dan menjauh dari yeoja itu. “ Ada pencuri !!!” Jiyeon berteriak sangat keras. “ Bukan..bukan..kau salah paham .”yeoja itu berusaha menjelaskan pada Jiyeon. Lalu terdengar deratan suara langkah kaki yang begitu cepat dari arah tangga. Tak lama kemudian pintu kamar Jiyeon terbuka.

“ Dimana pencurinya ?!” Tanya nyonya Park dan Chanyeol bersamaan sambil memegang sapu dan panci ditangan mereka. “ Disini !!” Jiyeon segera menunjuk ke arah yeoja itu. Tapi nyonya Park dan Chanyeol hanya bengong melihat ke arah tangan Jiyeon.

“Yah~ Jiyeon ! Tidak ada pencuri disini ! Kau ini kenapa sih mengerjai kami ?”ujar Chanyeol yang menjadi kesal. “ Aigoo~. Aku kira benar-benar ada pencuri..”ujar nyonya Park yang sama kecewanya seperti Chanyeol.

“ Yah! Pencuri itu benar-benar ada ! Dia didepanku ! Tidakkah kalian melihatnya ?”  Jiyeon benar-benar merasa aneh. Jelas-jelas ada seorang yeoja didepannya. “ Sudahlah, eomma mau istirahat lagi..”ujar nyonya Park yang menjadi tidak berminat dan kemudian keluar dari kamar Jiyeon. “ Jiyeon, hentikan lelucon kuno mu ini.” ledek Chanyeol kepada Jiyeon dan kemudian ia mengikuti nyonya Park keluar dari kamar Jiyeon.

“ Yah Oppa! Ini bukan lelucon! ” teriak Jiyeon sambil melemparkan bantal kearah Chanyeol karena kesal dan juga putus asa. Yeoja didepannya itu pun terkikik. “Percuma kau berteriak-teriak seperti itu.”ujar yeoja itu.

“ Apa maksudmu?” Tanya Jiyeon ketus sambil menatap kesal kearah yeoja itu.

“ Mereka kan tidak bisa melihatku.”jawab yeoja itu sambil tersenyum memamerkan giginya . Jiyeon tertawa sinis. “ Jika mereka tidak bisa melihatmu, lalu kenapa aku bisa melihatmu ?!”

“ Aku juga tidak mengerti dengan yang satu itu. Aku juga bingung. Makanya aku kaget sekali waktu kau bisa melihatku ketika di Café .” jawabnya.

“ Apa sih maksudmu itu ? Aku tidak mengerti !”ujar Jiyeon yang semakin kesal.

“Aku ini hantu.” ujar yeoja itu dan membuat Jiyeon bergeming mendengarnya. “kau pasti bercanda.”

“ Tidak.. aku serius ! Lihat ini..” Yeoja itu segera berjalan kearah pintu dan menunjukan kepada Jiyeon bagaimana cara ia masuk dan keluar tanpa perlu membuka pintu terlebih dahulu.

“Astaga.. “ Jiyeon menganga. “sepertinya aku benar-benar telah gila sekarang.” Lanjutnya lagi dan ia menjadi lemas seketika melihatnya.

“ Tidak ! Kau belum gila.. kau masih sepenuhnya sadar.” ujar yeoja itu buru-buru.“ Kau sudah lihat kan ? Aku adalah hantu.” lanjutnya lagi.

“ Tidak.. aku benar-benar sudah gila sekarang. Lebih baik aku pergi tidur sekarang. Tidak ada lagi yoo seung ho dan aku tidak bertemu hantu .” Jiyeon buru-buru kembali berbaring diatas tempat tidurnya dan menarik selimutnya. “ Kau jangan tidur ! Kau harus membantuku !” yeoja itu menarik-narik selimut Jiyeon hingga jatuh ke bawah lantai.

“ Yah ! Hentikan tipuan bodohmu ini. “Jiyeon berteriak, emosinya memuncak, yeoja itu pun terdiam. “ Kau kan tadi lihat saat di Café, aku baru saja diputuskan pacarku ! Aku sedih sekaligus kesal, dan sekarang muncul kau dikamarku membuat aku menjadi tambah kesal ! Tidak bisakah kau diam dan biarkan aku tidur ?!” bentak Jiyeon dan kemudian ia mengambil selimutnya yang jatuh ke lantai dan kembali membaringkan badannya untuk tidur menghadap kearah yang berlawanan dengan yeoja itu.

 

-Jiyeon POV end

~Keesokan harinya~

-Suzy POV

Pagi-pagi sekali yeoja yang bernama Jiyeon itu sudah bangun. Dia terlihat kaget melihatku yang masih ada didalam kamarnya.

“ Selamat pagi.” Aku menyapanya sambil duduk di kursi yang berada di depan sebuah meja belajar. Ia melihat ke arahku sambil melongo. “ K..Kau ! Kenapa kau masih ada disini?” Tanya nya, kaget. “ Kau seharusnya pulang kerumah mu !” ujarnya lagi.

Aku tertawa mendengarnya. “Aku kan tidak punya rumah, Jiyeon-ssi.”jawabku sambil tersenyum ramah. “ Dan kau tau dari mana namaku ?”tanyanya lagi.

“ Name tag kerjamu.” jawabku sambil menunjuk ke arah name tag yang digantungkan diatas pengait.

“Ah begitu. Aku pergi mandi dulu, terserah kau mau ngapain. Aku harap tidak ada barang ku yang hilang.” Ujar yeoja itu sambil beranjak dari tempat tidurnya, mengikat rambutnya dan kemudian bersiap-siap untuk mandi.

“ Tenang saja, aku kan hantu mana bisa mencuri.” Jawabku, terkikik. Aku melihat yeoja itu mendumel sendiri sebelum akhirnya masuk kedalam kamar mandi yang berada di ujung kamarnya.

Setelah beberapa menit berlalu, Jiyeon pun telah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju dan juga celana jeans. Dia duduk didepan meja rias nya dan mulai membalurkan berbagai macam make up ke wajahnya. Aku memperhatikannya dengan begitu serius. Wajah Jiyeon benar-benar cantik dan terlihat alami. Walaupun tanpa make up, ia masih tetap terlihat cantik sama seperti sekarang.

Setelah selesai bersiap-siap Jiyeon segera mengambil name tag kerjanya, mengalungkannya dan kemudian mengambil tas nya dan bergegas keluar dari kamarnya. Buru-buru aku segera mengikutinya yang tengah menuruni tangga dan menuju ruang makan. Aku melihat ibu dan kakaknya sudah berada disana terlebih dahulu. Aku duduk dikursi kosong tepat disamping Jiyeon. Yeoja itu sedang mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang berada didepan meja nya. Ada sedikit yang mengganjal, hanya ada 3 orang yang sedang sarapan saat ini.

“Dimana ayahmu ?” tanyaku kepada Jiyeon. “Dia sudah meninggal.” Jawab Jiyeon sambil tetap makan dan seketika ibu dan kakaknya melihat kearahnya dengan bingung.

“ Apa yang kau maksud ‘dia sudah meninggal’ ? “ Tanya ibu Jiyeon.

“ A.. ah tidak ! Jadi kalian benar-benar tidak bisa melihatnya ya ?” ujar Jiyeon sambil menoleh kearahku.

“ Melihat apa ? Apa kau baik-baik saja?” Jiyeon mengangguk, ”Nae, eomma. Gwenchanayo.”

“ Aniyo eomma, pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya. Dia tidak seperti biasanya .” Ujar namja yang bernama Chanyeol itu.

“ Diamlah oppa! Kau itu terlalu cerewet! “ jawab Jiyeon sambil memandang kesal ke arah Chanyeol.

“ Oppamu begitu tampan.” Pujiku, lalu Jiyeon tersedak mendengarnya. “ Mwo ? dia itu menyebalkan dan maniak !” ujar Jiyeon kepadaku.

“ Apa yang kau maksud dengan menyebalkan dan maniak?” Tanya namja itu.

“ Anio.. lupakan saja.” Jawab Jiyeon lalu segera menghabiskan sarapannya.

“ Eomma, sepertinya aku akan pulang malam hari ini.” Ujar Chanyeol yang nampaknya tidak menyadari maksud perkataan Jiyeon itu untuknya.

“ Wae ?” Tanya ibu nya. “ Dia pasti akan minum bersama teman-temannya !” Jiyeon mengompori.

“ Aish kau ini ! “ Chanyeol mengacak-ngacak rambut Jiyeon. “ Ah oppa ! Rambutku nanti berantakan lagi.” Jiyeon segera merapikan rambutnya.

Entah mengapa aku senang melihat keluarga ini. Mereka terlihat akrab satu sama lain. Walaupun tanpa ayah, mereka terlihat bisa mengatasi segala masalah yang akan mereka hadapi.

“ Hari ini temanku yang tinggal dari Amerika akan pulang, dia mengundang kami untuk makan bersama.”

“Woah.. Amerika ? pasti dia ganteng sekali ! Berbeda dengan kau ! “ ledek Jiyeon.

“ Begini-begini juga aku mempunyai banyak fans !” ujar Chanyeol yang tak mau kalah.

“ Terserah kau saja.  “ ujar Jiyeon. “ Eomma, aku harus berangkat sekarang. “ lanjut   Jiyeon lagi. Ibunya pun mengangguk, “ eoh, berangkatlah, jika tidak kau akan terlambat.” Sebelum akhirnya Jiyeon berangkat kerja, ia mencium pipi ibunya terlebih dahulu.

“  Aku pergi .” Jiyeon pun segera melangkahkan kakinya keluar rumah dan aku pun mengikutinya.

“ Yah ! Kenapa kau masih mengikutiku ?! “

-Suzy POV end

 

-Jiyeon POV

“ Yah ! Kenapa kau masih mengikutiku ?!” ujarku kaget. Aku kira yeoja itu hanya sebatas dirumah saja, tapi apa-apaan ini, dia masih mengikuti hingga aku keluar rumah.

“ Habis, kau tidak mau membantuku.” Jawab yeoja itu.

“ Mana bisa aku membantu seorang hantu.” Jawabku sambil buru-buru jalan munuju ke halte.

“ Waeyo ? Kau bisa membantuku kok. “ ujarnya. “ Akan kuberikan apa saja asal kau bisa membantuku.” Lanjutnya lagi.

“ Dunia kita berbeda. Tidak ada yang bisa kulakukan untukmu. Begitu juga kau.” Jawabku lagi. “ Lagipula aku masih tidak percaya kalau kau seorang hantu. Mana bisa seorang hantu berkeliaran di siang hari seperti ini.”

“ Ah terserah kau saja deh ! “ujar yeoja itu, kesal dan kemudian tiba-tiba saja ia menghilang. “ Benar-benar hantu rupanya.” Aku bergumam dan sedikit merasa merinding.

“ Aghasii.. gwenchanayo ?” tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang duduk disampingku tengah berbicara kepadaku. Aku baru ingat kalau aku sedang berada di halte.

“ N..neh, ahjumma ?” tanyaku, bingung.

“ Kau berbicara sendiri.. apa kau sakit ?” ujarnya sambil menatapku dengan pandangan aneh. “Ah itu..” batinku.

“ Neh ahjumma.. aku baik-baik saja.” Jawabku, dan untungnya tak berapa lama kemudian bus yang kutunggu datang juga. Aku segera naik ketika bus tersebut sudah berhenti dan duduk disalah satu kursi yang masih kosong. Aku merogoh hpku yang aku taruh didalam tas. Tidak ada pesan maupun telepon. Sepertinya memang harus berakhir.

-Jiyeon POV end

-Author POV

Setelah sampai di gedung SBS, Jiyeon buru-buru segera naik ke lantai 2. Ya, Jiyeon bekerja disebuah stasiun tv swasta Korea. Dia bekerja di bagian departemen 1 . Hari ini dia baru saja diberitahukan bahwa akan diadakan meeting mendadak diruangan kepala bagiannya.

Buru-buru ia segera mengetuk pintu ruangan kepala bagian-nya, “Masuklah.” Ujar seseorang laki-laki dari dalam yang tak lain suara kepala bagian. Jiyeon membuka pintu tersebut dan kemudian membungkukan badannya, “Joseonghamnida..” ujarnya beberapa kali dan kemudian segera menempati kursi yang masih kosong.

“Apa semuanya sudah berkumpul ?” Tanya kepala bagian kepada seluruh orang yang telah memenuhi ruangannya tersebut. Jiyeon memperhatikan ke seluruh penjuru ruangan dan aku berhenti tepat pada seorang namja yang tengah duduk disamping kepala bagian. Badannya yang tegap , mukanya yang begitu tegas dan rambut hitamnya yang begitu pekat. Dia terlihat begitu serius memainkan pulpen yang berada ditangannya. Jiyeon merasa belum pernah melihat namja itu sebelumnya.

“ Siapa dia ? “ Jiyeon berbisik ke seseorang disebelah kanannya, dia adalah Seo In Guk, rekan sekerja nya.

“ Anak direktur.” Jawab namja itu, dan membuat Jiyeon seketika kaget. “ Mwo ?! “ Jiyeon membelalakan matanya dan tanpa sadar ternyata ia telah membuat seisi ruangan tersebut menoleh kearahnya, termasuk namja yang sedang ia bicarakan.

“ Wae geuraseyo, Park Jiyeon ?” tanya kepala bagian kepada Jiyeon.

“ Joseonghamnida.. Joseonghamnida.” Ujar Jiyeon berkali-kali meminta maaf.

“ Baiklah akan kulanjutkan, aku akan memperkenalkan rekan kerja baru kita sekaligus kwajang (manajer) baru kita di departemen ini. “ ujar kepala bagian. “ Dia adalah putra kedua sajangnim (direktur) kita diperusahaan ini yang baru saja pulang dari Amerika.” Lanjutnya lagi dan kemudian terdengar kata ‘wah’ dari beberapa orang yang hadir. “ Silahkan, kwajangnim.” Ujar kepala bagian mempersilahkan namja itu untuk memperkenalkan diri. Namja itu pun berdiri dan sontak membuat beberapa yeoja begitu terpana melihatnya.

“ Annyeonghaseyo. Kim Myungsoo imnida. ” Ujar namja itu. “ Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik.” Lanjutnya lagi, kemudian terdengar tepuk tangan meriah menyambut namja tersebut. Tidak ada kehangatan yang terpancar dari wajah namja itu, hanya sebuah senyum simpul yang ia tunjukan.

 

-Author POV end

-Jiyeon POV

Kedatangan manajer baru di departemen 1 itu memang sudah menyebar luas diperusahaan. Bukan hanya karena ia seorang anak direktur perusahaan kami, tapi juga karena ketampanannya. Namja itu terlihat pendiam dan tak banyak bicara. Entah apa yang ia pikirkan, kelihatannya ia asyik dengan duniannya sendiri. Tapi setidaknya bagus jika memang seperti itu, manajer kami yang lama itu begitu cerewet dan terlalu banyak aturan.

“ Jiyeon-ssi..” tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku menoleh ke asal suara tersebut. Dan ternyata yeoja itu muncul lagi. Hawa dingin kembali menerpa kulitku.

“ Kau lagi rupanya..” ujarku, sedikit lelah.

“ Aku ? kenapa, Jiyeon-ah ? “ tanya Hara, teman 1 ruanganku yang terlihat bingung melihatku.

“ Ah, tidak apa-apa..” jawabku, buru-buru. Dan kemudian aku kembali mengerjakan laporanku dan pura-pura tidak melihat yeoja itu.

“ Bantu aku, Jiyeon-ssi..” rengek yeoja itu sambil menarik-narik lengan bajuku. Aku tetap berusaha focus mengerjakan laporanku dan tak menghiraukannya.

“ Jiyeon-ssi !! “ teriaknya, namun aku tetap tak menghiraukannya dan seketika komputer yang ada didepankku mendadak menjadi mati.

“ Apa yang kau lakukan ?!” dengan refleks aku langsung berteriak. Laporan yang tengah aku kerjakan seketika hilang karena komputer tiba-tiba saja mati. “ Tidak tahukah kau aku telah bersusah payah mengerjakannya ?!” ujarku yang memarahi yeoja itu. Dia benar-benar sudah keterlaluan.

“ M..mianhae Jiyeon-ah, tapi aku tidak melakukan apa-apa..” tiba-tiba Hara meminta maaf kepadaku. Dan astaga, aku benar-benar telah lupa kalau mereka tidak bisa melihat yeoja itu . mendadak seisi ruangan itu menoleh kearahku karena mereka kira aku telah memarahi Hara.

“ Aniyo..” aku menghela napas sambil memukul pelan kepalaku. “ Mianae Hara-ah.. tadi aku tak bermaksud memarahimu. Aku hanya kesal dengan komputer ini yang tiba-tiba mati.. haha” aku berusah memaksakan tertawa walau aku tahu akting ku benar-benar payah sekali.

“ Jeongmalyo ? Aku kira kau hari ini marah padaku. Kau sedang PMS ya ? kau terlihat kacau sekali hari ini..” ujarnya, aku hanya mengangguk  mengiyakan perkataannya itu. Setelah suasana menjadi lebih baik, aku segera menatap ke arah yeoja itu dengan begitu kesal. Aku mengambil sebuah kertas kosong dari dalam laci dan menulis sesuatu dikertas tersebut.

Sebentar lagi jam istirahat, jadi tolong biarkan aku mengerjakan laporanku. Tunggu aku di atap gedung.

Yeoja itu membaca tulisan yang barusan aku tulis dan tak lama kemudian yeoja itu kembali menghilang. Lalu aku segera membuang kertas itu kedalam trash bin yang berada diujung ruangan dan kemudian kembali melanjutkan pekerjaanku.

Setelah 1 jam berlalu akhirnya jam makan siang pun tiba dan sesuai janjiku aku harus menemui yeoja itu. Jika aku tidak menurutinya kali ini, entah apa yang akan ia lakukan. Mungkin saja ia akan membakar rumahku. “ Itu tidak mungkin, dia kan hanya hantu.” Pikirku. “ Tidak..tidak, tadi saja dia bisa mematikan komputer ! “ atau mungkin dia akan membawa Seung ho pergi bersamanya. Tapi sepertinya itu ide yang bagus dan tidak merugikan untukku.

“ Hei, kau dimana ? “ aku berteriak mencari sosok yeoja itu di atas atap gedung kantor. Tidak ada siapa-siapa, hanya ada aku saja. Aku mencoba berjalan ke arah pinggir atap yang dibatasi dengan sebuah pagar. Saat ini aku berada dilantai 15, entah apa jadinya jika aku loncat kebawah dari lantai setinggi ini.

“ Kau mau bunuh diri ?” tiba-tiba sebuah suara muncul dari belakang punggungku dan hawa dingin kembali menyeruak di permukaan kulitku.

“ T..tidak ! “ Aku segera berbalik dan menghadap yeoja itu. Bisa saja jika tiba-tiba dia ingin mendorongku ke bawah sana. “ Aku masih ingin hidup !” lanjutku lagi.

“ Kau kira aku ingin mendorongmu ke bawah sana, Jiyeon-ssi ? “dia tertawa. “ Bagaimana bisa dia mengetahui pikiranku ?” batinku.

“ Tentu saja aku bisa tahu, reaksimu itu terlalu bisa ditebak. Kau itu terlalu lugu dan bodoh.” Ujarnya. “ Lagipula jika kau mati, siapa yang akan membantuku..” lanjutnya lagi.

“ M..Mwo ? Bodoh ? Yah ! Aku tidak bodoh ! “ ujarku. Lalu yeoja itu berjalan menuju kursi yang berada tidak jauh dari kami, aku mengikutinya dan duduk dikursi tersebut.

“ Tentu saja kau bodoh. Sikapmu yang kemarin dan sekarang berbeda. Kau kemarin terlihat benar-benar sedih dan sekarang aku tahu kau sedih tapi kau menutupinya. Tapi tetap saja menurutku kau tidak pandai untuk berakting bahwa kau baik-baik saja. Kau masih terlihat kacau seperti kemarin. Hanya saja lebih terkontrol dibading kemarin.” Ujar yeoja itu yang tiba-tiba saja malah menceramahiku.

“ Aku kacau seperti ini kan gara-gara kau ! kau muncul dan mengajakku berbicara. Orang-orang mulai menganggapku aneh. “

“ Itu termasuk salah faktor, aku setuju dengan itu. Tapi faktor utamanya bukan karena aku, tapi karena namja itu. Siapa namanya ? Yoo.. yoo seung ho ?” dia menyebutkan nama namja itu, rasanya seakan tubuhmu ditusuk berkali-kali.

“ Jangan sebut nama itu didepanku.” Ujarku, kesal.

“ Tapi semalam kau terus meracau memanggil nama namja itu dalam tidurmu.” lanjutnya lagi dan kali ini benar-benar rasanya seperti tubuhmu dihempaskan sebuah angin yang begitu kencang beserta petirnya.

“ Yah~ keumanhae ! Aku tidak ingin membicarakan tentang masalahku. Jadi, apa masalahmu ? lebih baik kita cepat selesaikan, aku bisa gila kalau lama-lama seperti ini !” ujarku yang sudah merasa begitu lelah.

“ Kau benar-benar mau membantuku ?” dia begitu bersemangat.

“ Tidak ada pilihan lain.” Jawabku. “ Cepat katakan, apa masalahmu.” Ujarku yang semakin kesal.

“ Bantu aku mencari identitasku .” aku terdiam mendengarnya. “ Siapa namamu ?” tanyaku.

“ Aku.. aku tidak ingat siapa namaku.” Jawabnya sambil terkekeh.

“ M..mwo ? Lalu bagaimana bisa aku mencari identitasmu ? Tidak mungkin aku bisa menemukan identitasmu jika namamu saja kau lupa !”

“ Tapi aku punya petunjuk, kalung ini..” kemudian ia segera mengeluarkan sebuah kalung dari lehernya. Aku melihat sebuah kalung kupu-kupu berwarna sapphire blue.

“ Tidak bisa kalau hanya dengan sebuah kalung seperti ini..” ujarku yang merasa frustasi dan mengacak-ngacak pelan rambutku .

“ J.. Jiyeon-ssi..” panggil yeoja itu.

“ Diam.. aku sedang berpikir..”

“ Jiyeon-ssi..” panggilnya lagi.

“ Ada apa sih ? “ keluhku, yang akhirnya menoleh kearahnya.

“ Ada orang lain diatas sini, dia sedang melihat kearah kita.” Jawabnya sambil menunjuk kearah kanan dari bahuku.

“ M..Mwo ?!” buru-buru aku segera menoleh kearah tersebut dan melihat seorang namja yang tengah berdiri didekat pintu sambil memandang kearah kami.

“ K..Kwajangnim ! “ pekikku dan segera berdiri membungkukan badanku.

“ Kau.. sedang berbicara dengan siapa ? “ tiba-tiba saja ia berjalan mendekat ke arahku sambil memandang ku dengan begitu curiga. Keringatku kembali mengalir begitu deras dan tanganku gemetar sama seperti waktu itu.

“ A.. Aku…” ujarku terbata-bata.

Ottokeh.. Apa yang harus aku katakan padanya ?

Tuhan,

Tolong aku, jeball..

 

-Jiyeon POV END

Akhirnya part 1 kelar juga..hehe . Mianhae kalo publish nya terlalu lama, author usahakan untuk part berikutnya agak lebih cepat dan maaf kalau ceritanya agak gaje, udah lama ga nulis FF jadi agak canggung u.u

 

 

 

20 thoughts on “Love Mission – Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s